Daerah Ini Ngebet Pisah dengan Ukraina, Gelar Referendum Gabung Rusia
:extract_focal()/https%3A%2F%2Fakcdn.detik.net.id%2Fvisual%2F2022%2F03%2F04%2Fzaporizhzhia-nuclear-power-plant-2_169.jpeg%3Fw%3D360%26q%3D90)
Pihak berwenang yang didukung Rusia di wilayah tenggara Ukraina, Zaporizhzhia, mengatakan mempercepat rencana menggelar referendum demi bergabung dengan pemerintahan Presiden Vladimir Putin.
"Saya menandatangani dekrit ... untuk mulai mengerjakan masalah pengorganisasian referendum tentang penyatuan kembali wilayah Zaporizhzhia dengan Federasi Rusia," Yevgeny Balitsky, kepala pemerintahan Zaporizhzhia buatan Rusia, melalui media sosial pada Senin (8/8).
:extract_focal()/https%3A%2F%2Fakcdn.detik.net.id%2Fcommunity%2Fmedia%2Fvisual%2F2021%2F03%2F16%2Firan-rilis-kota-rudal-4_169.jpeg)
Dikutip AFP, Balitsky sebelumnya mengindikasikan pemungutan suara dapat diadakan pada musim gugur tahun ini.
Wilayah Ukraina selatan Kherson dan Zaporizhzhia sebagian besar berada di bawah kendali Rusia sejak awal invasi berlangsung pada 24 Februari lalu.
Saat ini, Kherson dan Zaporizhzhia secara paksa diintegrasikan dalam ekonomi Rusia.
Pertempuran Rusia vsUkraina pun semakin sengit memasuki enam bulan invasi Moskow. Terbaru, Rusia dan Ukraina saling tuduh menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia. PLTN itu merupakan pembangkit tenaga nuklir terbesar di Eropa.
Gempuran yang terus menyasar wilayah sekitar PLTN Zaporizhzhia itu pun menyebabkan sejumlah kerusakan infrastruktur hingga memaksa penutupan reaktor.
Negara Eropa, Amerika Serikat, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) was-was pertempuran Rusia vs Ukraina di Zaporizhzhia bisa memicu bencana nuklir.
Sebelum melancarkan invasi tahun ini, Rusia telah mencaplok Semenanjung Crimea di Laut Hitam dari Ukraina. Pencaplokan itu terjadi setelah Crimea mengadakan referendum.
Sebagian besar masyarakat internasional tidak mengakui hasil referendum Crimea yang digelar secara tertutup itu.
0 Komentar