Pejuang Hamas Awalnya Ingin Serang Penjara Israel pada 7 Oktober, tapi...
Serangan lintas batas Hamas ke Israel pada 7 Oktober sebenarnya mengincar penjara di Ashkelon (Foto: Reuters)
LONDON, iNews.id - Serangan lintas batas pejuang Hamas pada 7 Oktober mengejutkan Israel, menewaskan 1.200 orang lebih. Namun surat kabar yang barbasis di London, Inggris, Asharq Al Awsat mengungkap ada pergeseran target serangan Hamas saat itu.
Mengutip sumber faksi perlawanan Palestina, surat kabar itu melaporkan, para pejuang sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin Al Qassam, sebenarnya ingin menyerang penjara di Kota Ashkelon, Israel, untuk membebaskan ratusan tahanan Palestina. Membebaskan warga Palestina dari penjara merupakan salah satu tujuan utama operasi Badai Al Aqsa yang dilancarkan Al Qassam. Namun sumber
itu mengatakan terjadi kesalahan teknis yang dilakukan personel yang bertugas memandu dengan GPS dan peta.
Baca Juga

Disebutkan, salah satu kelompok terdiri atas 23 pejuang ditugaskan untuk mencapai penjara Ashkelon dan membebaskan tahanan. Sementara kelompok lain menjalankan misi menyusup ke pangkalan militer di Ashkelon, setelah itu membantu mereka yang berada di penjara.
Sumber itu melanjutkan, kelompok tersebut berangkat menuju Ashkelon, melintasi perbatasan, dan mencapai Kibbutz Yad Mordechai, Netiv HaAsara.
Baca Juga

Hasil penyelidikan awal dari Al Qassam menunjukkan, kesalahan tersebut disebabkan personel yang ditunjuk untuk memandu pejuang menggunakan GPS dan peta, melakukan kesalahan dalam menentukan arah. Akibatnya, para pejuang yang datang menggunakan gantole bermotor mendarat di pemukiman Netiv HaAsara, bukan penjara.
Para pejuang kemudian terlibat baku tembak dengan pasukan keamanan Israel yang panik dengan serangan mendadak di pagi buta itu.
Baca Juga

Sementara itu para pejuang Al Qassam menyandera banyak warga Israel, termasuk tentara, dengan membawa mereka ke Gaza.
Diperkirakan sekitar 240 warga Israel disandera di Gaza, namun sekitar 100 di antaranya sudah dibebaskan dalam gencatan senjata selama 7 hari yang berakhir pada 1 Desember 2023.
Hingga saat ini operasi darat Israel ke Gaza belum dapat membebaskan sandera yang tersisa. Israel mengancam akan menyerang Rafah, kota yang menjadi benteng pertahanan terakhir Hamas, jika semua sandera tak dibebaskan pada Ramadan.
Namun Hamas menjawab tantangan itu, tak akan membebaskan sandera sampai gencatan senjata permanen.
Editor : Anton Suhartono
Follow Berita iNews di Google News
0 Komentar