Bukan Cuma Perang, Ini Yang Bikin Harga Minyak Terbang Tinggi

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah kembali melaju kencang di bulan Februari setelah melesat dua digit persentase Januari lalu. Perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina membuat harga minyak mentah semakin terakselerasi di akhir bulan ini.
Pada perdagangan Senin (28/2) pukul 13:50 WIB, minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di kisaran US$ 102,62/barel, melesat 4,8% dibandingkan dengan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Brent kembali ke atas US$ 100/barel untuk pertama kalinya sejak 2014 pada Kamis lalu.
Di waktu yang sama, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat 5,7% ke US$ 96,87/barel.
Sepanjang bulan Februari hingga ke level hari ini, Brent sudah melesat lebih dari 12% dan WTI nyaris 10%.
Mulai pulihnya perekonomian global pasca dihantam pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) membuat harga minyak mentah terus menanjak sejak tahun lalu. Baik Brent maupun WTI sepanjang 2021 melesat lebih dari 50%. Sementara di Januari 2022, keduanya melesat lebih dari 17%.
Mobilitas masyarakat yang semakin longgar setelah vaksinasi massal di beberapa negara diprediksi akan kembali meningkat, terutama setelah varian terbaru yakni Omicron diketahui tak memicu gejala parah.
International Energy Administration (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia tahun ini akan meningkat sebesar 3,2 juta barel per hari, menjadi 100,6 juta barel per hari menyusul pelonggaran pembatasan sosial.
Masalahnya, lonjakan permintaan tidak sejalan dengan kenaikan produksi yang lamban. Pandemi telah memaksa penutupan atau pengurangan kapasitas produksi kilang minyak, sehingga tak semudah itu membalikkan kembali produksi guna mengikuti permintaan pasar.
Apalagi kini terjadi perang antara Rusia dan Ukraina yang berisiko membuat pasokan minyak dari Negeri Beruang Merah tersendat. Rusia merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia.
Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat memang tidak memberikan sanksi ke industri energi Rusia.
Tetapi Rusia dikeluarkan dari jejaring informasi perbankan internasional yang dikenal sebagai SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication), yakni semacam platform jejaring sosial bagi bank.
Lewat SWIFT bank-bank di dunia yang tergabung di dalamnya dapat bertukar informasi tentang pergerakan uang.
SWIFT kini sudah mengkoneksikan lebih dari 11 ribu institusi keuangan di lebih dari 200 negara sehingga transaksi keuangan antar negara dapat dilaksanakan.
Jika benar Rusia diputus dari SWIFT maka hal itu bisa berdampak secara tidak langsung ke ekspor minyak, sehingga supply global bisa terganggu.
"Sanksi yang diterima perbankan Rusia membuat penjualan minyak mentah menjadi lebih sulit," kata John Kilduff, dari Again Capital sebagaimana diwartakan CNBC International.
TIM RISET CNBC INDONESIA
0 Komentar