Jerman: Tak Ada Risiko Krisis Keuangan di Eropa usai Runtuhnya Silicon Valley Bank
BERLIN, iNews.id – Kanselir Jerman Olaf Scholz menilai tidak ada risiko krisis keuangan baru di Jerman dan Eropa pascaruntuhnya Silicon Valley Bank (SVB) di AS. Begitu pula halnya dengan dampak yang ditimbulkan oleh situasi yang tidak pasti di sekitar bank investasi global Credit Suisse yang berbasis di Swiss.
“Saya tidak melihat bahaya. Sistem moneter tidak lagi rapuh seperti sebelum krisis keuangan (pada 2008),” kata Scholz kepada surat kabar Handelsblatt, Kamis (16/3/2023).
Pemimpin Jerman itu menuturkan, dia tidak mengharapkan perkembangan terakhir di sektor perbankan global berdampak serius pada deposan Jerman. “Simpanan nasabah Jerman aman. Bukan hanya karena ketahanan sistem perbankan yang lebih baik dan regulasi yang lebih ketat, tetapi juga karena kekuatan ekonomi kita,” ujarnya.
Pekan lalu, regulator California di AS menutup SVB—yang menjadi bank terbesar Amerika yang runtuh sejak krisis keuangan 2008. Kolapsnya SVB diyakini terkait dengan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve System (Fed) selaku bank sentral AS, yang menyebabkan penurunan nilai aset pada neraca banyak lembaga keuangan, di samping manajemen risiko yang buruk pada SVB itu sendiri.

Pada Minggu (12/3/2023), pihak berwenang AS juga menutup Signature Bank yang berbasis di New York karena risiko sistemik. Ini adalah kegagalan bank terbesar ketiga dalam sejarah Amerika Serikat.

Pada Rabu (15/3/2023), harga saham Bank Credit Suisse anjlok hampir 30 persen, memicu kekhawatiran tentang krisis likuiditas. Otoritas Pengawas Pasar Keuangan Swiss menyatakan, Credit Suisse memenuhi persyaratan likuiditas dan Swiss National Bank akan menyediakan likuiditas jika diperlukan.
Pada Kamis (16/3/2023) kemarin, Credit Suisse mengumumkan penjualan aset lebih dari 3 miliar dolar AS. Dewan Federal Swiss bahkan sampai mengadakan pertemuan darurat pada hari yang sama untuk membahas situasi tersebut.
Editor : Ahmad Islamy Jamil
Follow Berita iNews di Google News
0 Komentar