Viral Turis Asing Ribut dengan Pecalang di Bali: Dont Touch My Girlfriend! Dont Touch My Girlfriend! - Halaman all
Dalam video yang beredar luas dan viral di media sosial, terlihat sepasang turis asing tengah dihentikan oleh Pecalang Desa Adat Pecatu.
Mereka yang berboncengan dengan mengendarai sepeda motor itu terlihat berhenti dihadapan banyaknya pria yang kerap disebut dengan polisi adat Bali.
Para pria yang mengenakan pakaina serba putih dengan kain bermotif kotak-kotak serta penutup kepala putih khas Bali itu terlihat beradu mulut dengan sang turis pria.
Sementara, sang turis perempuan terlihat turun dari sepeda motor.
Perempuan berkulit putih itu mencoba menenangkan pacarnya yang marah kepada para Pecalang.
Tidak jelas apa yang diributkan antara turis asing pria itu dengan para Pecalang.
Begitu juga dengan percakapan antara mereka.
Baca juga: Kabar Duka, Ustaz Dasad Latif Sakit, Akui Sudah tidak Bisa Lagi Berdakwah: Mohon Doanya
Baca juga: Sering Ketemu Sampai Pede Panggil Maneh, Ternyata Sabil Salah Sangka Soal Emil, Malah Viral-Dipecat

Hanya saja, turis pria terlihat sangat marah, bahkan menjatuhkan tasnya dan turun dari sepeda motor yang dikendarainya.
Dalam aksi tersebut, sang turis pria terlihat kecewa atas perlakuan seorang Pecalang yang diduga menyentuh pacarnya.
Sebab, turis pria berbadan kekar itu berulang kali berteriak kepada seorang Pecalang untuk tidak menyentuh pacarnya.
"Dont touch my girlfriend!, Dont touch my girlfriend!, Dont touch my girlfriend!" teriak sang turis pria.
Melihat aksi sang turis pria, para pecalang yang berada di lokasi terlihat langsung mengerubungi.
Mereka menahan sang turis untuk maju.
Baca juga: Ini Alasan Sabil Berani Bilang Maneh ke Ridwan Kamil, Tak Sangka Bisa Viral dan Kehilangan Kerja
Baca juga: Beda dengan Emil, Sabil Boleh Panggil Dedi Mulyadi Maneh: Sunda Asli Itu Tidak Terkenal Undak Usuk

Kedua tangan turis itu terlihat ditahan dua orang Pecalang.
Sementara seorang Pecalang lainnya yang berada di depan sang turis terlihat mencekik leher dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya memegang rokok.
Tak hanya itu, Pecalang yang mencekik itu kemudian memiting kepala sang turis.
Turis pria yang tak berdaya itu kemudian dipegangi oleh sejumlah Pecalang lainnya hingga tayangan berakhir.
Belum diketahui akhir dari perseteruan antara turis asing itu dengan Pecalang.
Namun, admin @jktnews yang mengunggah video tersebut menuliskan kronologi kejadian.
Peristiwa tersebut bermula ketika para Pecalang Desa Adat Pecatu memberhentikan sepasang turis asing ketika melintasi Jalan Labuan Sait, Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali.
Pecalang melarang mereka melintas karena ada prosesi upacara Melasti.
"Viral di media sosial turis asing mengamuk lantaran tidak diberi jalan oleh pecalang saat prosesi upacara Melasti di Jalan Labuan Sait, Pecatu, Kuta Selatan, Badung," tulis admin @jktnews.
"Bahkan dia sempat menantang berkelahi pecalang yang berjaga," jelasnya.
Sang admin menginformasikan turis asing tersebut kemudian berdebat dan marah.
Kemudian terjadi perseteruan yang terekam dalam video yang beredar luas dan viral di media sosial.
"Dalam rekaman video yang beredar, tampak bule pria itu bersama teman wanitanya. Dia berdebat dengan pecalang dengan tetap berada di atas motor," tulis admin @jktnews.
"Bule itu melontarkan kata-kata dengan nada tinggi. Sedangkan teman wanitanya sudah turun dari boncengan. Bule pria pun sempat ditenangkan oleh pacarnya itu," jelasnya.
Apa itu pecalang?
Dikutip dari situs resmi Kemeparekraf, indonesia.travel.id, pada saat Hari Raya Nyepi di Pulau Dewata, selalu ada pasukan khusus yang mengenakan pakaian adat Bali berupa atasan hitam, bawahan kotak-kotak dan penutup kepala khas Bali di jalan-jalan raya.
Nah, pasukan khusus itu disebut pecalang.
Dalam Bahasa Bali, pecalang diambil dari kata “celang” yang artinya tajam indranya.
Pecalang adalah polisi tradisional yang bertugas menjaga, mengamankan, menertibkan desa, wilayah, baik dalam aktivitas sehari-hari maupun upacara adat atau keagamaan.
Singkatnya, pecalang merupakan polisi adat Bali.
Tentunya, mereka akan berbagi tugas dengan satpol PP atau Polisi Sektor (Polsek). Pecalang ini sudah dikenali dan disegani oleh masyarakat Bali.
Sejarah pecalang dalam budaya masyarakat adat Bali
Usut punya usut, pecalang dikabarkan sudah hadir sejak tahun 1970an dan hanya bertanggung jawab akan keamanan desa adat serta upacara adat keagamaan.
Terbentuknya pecalang berkaitan erat dengan hadirnya desa pekraman atau desa adat.
Demi mewujudkan visi misi desa yang tertib dan aman, maka dibentuklah pecalang.
Seiring bergulirnya waktu, pecalang pun mulai dilibatkan dalam pengamanan kegiatan politik seperti partai partai.
Bahkan, kini pecalang pun sudah memiliki landasan hukum sendiri yang diatur dalam peraturan daerah (Perda). Hebat kan?
Siapa saja yang bisa menjadi anggota pecalang?
Sesuai asal-usul namanya, ketajaman indra seseorang menjadi syarat penentuan anggota pecalang.
Seorang anggota pecalang harus memiliki indra penglihatan, penciuman, pendengaran, dan perasaan yang tajam.
Hal ini penting karena harus diterapkan saat mereka berkeliling area yang dijaga.
Secara administratif, untuk menjadi anggota pecalang, seseorang harus beragama Hindu, berada di wilayah tugas di Bali, berusia lebih dari 25 tahun, berkelakuan baik, serta tidak pernah terlibat kasus hukum.
Sebagai tambahan, perlu juga ada rekomendasi dari ketua pecalang melalui paruman desa.
Apa saja fungsi dan peran pecalang?
Secara umum dan merujuk pada ajaran agama Hindu di Bali, fungsi dan peran seorang pecalang adalah mengawasi keamanan dan ketertiban alam, lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, termasuk perilaku warga desa dan yang dari luar desa.
Pecalang menjaga wilayah desa di delapan penjuru mata angin di pos penjagaan yang strategis.
Secara administratif, sesuai Perda Provinsi Bali No. 3 Tahun 2003, pecalang bertugas mengamankan desa adat dan pelaksanaan tugas adat serta agama.
Melalui Perda ini, maka pecalang memiliki kedudukan, tugas, dan fungsi yang penting dalam menjaga dan menertibkan desa adat.
Ciri khas pecalang saat bertugas
Sobat Pesona yang sedang di Bali harus bisa mengenali bapak-bapak pecalang, nih!
Ciri-ciri penampilan anggota pecalang yaitu: mengenakan destar (udeng), baju sejenis rompi tanpa kancing, kampuh poleng (loreng), dan kain kotak-kotak sebagai bawahan.
Tidak luput juga sebuah keris yang mereka bawa kemana-mana.
Turis Asing Sering Bikin Ulah, Sandiaga Uno Bentuk Satgas Bersama Pemprov Bali
Aksi tidak terpuji hingga pelanggaran turis asing ketika berlibur di Bali beredar luas di media sosial.
Satu di antaranya menyalakan flare di Kawah Ijen hingga pelanggaran lalu lintas di Bali.
Dalam sejumlah video yang beredar, para turis asing bahkan dengan sesukanya memodifikasi plat nomor kendaraan yang disewanya.
Terkait hal tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno mengaku telah berkoordinasi denagn Pemprov Bali.
Kemenparekraf dan Pemprov Bali telah membentuk satgas khusus untuk menindak para oknum turis asing.
Selain itu, pihaknya juga akan memfasilitasi Satgas yang nanti akan memastikan keamanan dan kenyamanan dari kegiatan wisata dari para warga negara asing.
Sebab, menurutnya, pelanggaran hingga aksi tidak terpuji turis asing yang terekam kamera dan viral di media sosial itu merupakan oknum dari jutaan wisatawan mancanegara yang berlibur di Bali.
Oleh karena itu, Kemenparekraf bersama Dirjen Imigrasi akan mengawasi sekaligus menegakkan hukum atas pelanggaran yang dilakukan para turis asing.
"Kami bersama dengan Dirjen Imigrasi akan memastikan bahwa pengawasan dan penegakan hukum agar mayoritas dari wisatawan yang sebenarnya berkualitas itu tidak dirusak oleh segelintir oknum wisatawan yang melanggar hukum," ungkap Sandiaga Uno ketika menghadiri Pameran Accor, Wonderful Indonesia City of All di Central Park, Jakarta Barat pada Rabu (15/3/2023).
"Ini yang kita pastikan," tegasnya.
Sandiaga Uno beralasan, pemulihan sektor pariwisata membutuhkan kunjungan wisatawan dengan narasi yang positif.
Sehingga, seluruh industri di sektor pariwisata, khususnya industri perhotelan dapat bangkit menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat.
"Termasuk juga produk-produk ekonomi kreatif yang sekarang ditampilkan di industri perhotelan kita, dan ini membuka kesempatan 4,4 juta lapangan kerja baru di tahun 2024 serta mencetak USD 6 miliar devisa dari pariwisata kita," jelasnya.
Larangan Penyewaan Sepeda Motor Bagi Turis Asing
Terkait banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan turis asing, dirinya sepakat atas larangan penyewaan sepeda motor bagi wisatawan mancanegara yang akan diterapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.
Keputusan tersebut diungkapkan Sandiaga Uno merujuk sejumlah alasan.
Di antaranya aspek keamanan, mengingat banyak turis asing yang belum mahir mengendarai sepeda motor.
Begitu juga, apabila ditinjau dari aspek administratif.
Banyak turis asing diungkapkan Sandiaga Uno tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
"Kita tentunya melihat dari segi sisi keamanan, terutama keamanan berlalu lintas, banyak dari para wisatawan mancanegara yang belum mahir mengendarai sepeda motor, dan tidak memiliki Surat Izin Mengemudi motor ini," ujarnya Sandiaga Uno.
"Selama ini belum terlalu diawasi dan seandainya mereka mengalami kecelakaan itu berakibat fatal. Itu sudah banyak yang memberikan masukan agar kita lebih mengawasi dan menindak tegas pelanggaran-pelanggaran yang berkaitan dengan kegiatan berlalu lintas para wisatawan mancanegara," tegasnya.
Baca juga: Viral Tasdi-Bupati Idola Megawati Jadi Stafsus Risma Usai Bebas dari Penjara, Ini Jawaban Kemensos
Baca juga: Bukan Cuma Sri Mulyani, Bursok Anthony Sentil Mahfud MD Soal TPPU Bukan Korupsi Kasus Rafael Alun
Terkait hal tersebut, dirinya mengaku terus berkoordinasi dengan Pemprov Bali.
Terlebih mengenai peraturan dan perundang-undangan lalu lintas, sehingga para wisatawan mancanegara dapat merasa aman dan nyaman selama berlibur di Bali.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah Bali agar peraturan lalu lintas ini tersosialisasi dengan baik ke semua wisatawan mancanegara dan kami sudah menerbitkan do and does," ungkap Sandiaga Uno.
0 Komentar