Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Indonesia Dinilai Tidak Akan Terkena Fenomena Chilean Paradox, Ini Alasannya -

 

Indonesia Dinilai Tidak Akan Terkena Fenomena Chilean Paradox, Ini Alasannya

Rabu, 28 Februari 2024 | 18:53 WIB
WP
WP
Ilustrasi gedung perkantoran.
Ilustrasi gedung perkantoran. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal)

Jakarta, Beritasatu.com - Fenomena Chilean Paradox yang mengesampingkan kelas menengah sehingga berdampak pada gejolak sosial meski ekonomi tumbuh, dinilai tidak akan terjadi di Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap harus berhati-hati dengan memberikan insentif pada kelas menengah di samping program bantuan langsung untuk warga miskin.

ADVERTISEMENT

"Kemungkinan terjadinya fenomena Chilean Paradox di Indonesia kami lihat cukup kecil," kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi Beritasatu.com, Rabu (28/2/2024).

BACA JUGA

Pasalnya, kata dia, approval rating pemerintah Joko Widodo (Jokowi) masih sangat tinggi. Namun, dia menilai pemerintah tetap harus berhati-hati terkait risiko tersebut di tengah masih tingginya tekanan-tekanan ekonomi. "Hal ini dikarenakan kelas menengah di Indonesia adalah yang terbesar dan terus bertumbuh mendominasi demografi Indonesia," kata dia.

ADVERTISEMENT

Untuk itu, pemerintah perlu memerhatikan nasib kelas menengah dengan membuat program-progam yang mendukung mereka. 

BACA JUGA

Mantan Menteri Keuangan Muhamad Chatib Basri mengatakan kinerja ekonomi Chile mengesankan dengan pendapatan per kapita tertinggi di Amerika Latin. Selain itu, tingkat kemiskinan menurun dari 53% pada 1997 menjadi 6% pada 2017, atau lebih baik dibandingkan Indonesia. Chile juga memiliki Indeks Pembangunan Manusia terbaik di Amerika Latin. Ironisnya, pada Oktober 2019 terjadi gejolak sosial yang nyaris menimbulkan revolusi. "Ekonom Sebastian Edwards menyebutnya The Chilean Paradox. Mengapa? Salah satu penjelasannya adalah terabaikannya kelas menengah," kata Chatib.

Mengutip Teguh Dartanto dan Canyon Keanu Can (2023) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia melalui risalah yang diterbitkan dalam White Paper LPEM FEB UI (2023) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019-2022 meningkatkan pengeluaran bagi 20% kelompok terbawah dan kenaikan tajam bagi 10% kelompok teratas. Namun, nyaris mengabaikan kelompok pendapatan kelas menengah (persentil 40-80%).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti terus berita terhangat dari Beritasatu.com via whatsapp

Posting Komentar

0 Komentar